Revitalisasi Kooperatif Learning Dalam Menciptakan PAIKEM

Pembelajaran adalah suatu proses yang dilakukan oleh siswa, bukan diciptakan siswa (Isjoni, 2007). Menurutu M. Surya (2003), pembelajaran merupakan suatu proses perubahan yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan prilaku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil dan pengalaman individu itu sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Pembelajaran pada dasarnya merupakan upaya pendidikan untuk membantu peserta didik melakukan kegiatan belajar. Tujuan pembelajaran adalah terwujudnya efisiensi dan efektifitas kegiatan belajar yang dilakukan peserta didik.

Dalam proses pembelajaran setidaknya harus melibatkan dua komponen yang saling terkait satu sama lain, yaitu teachers (pendidik), learners (peserta didik). Kedua komunitas tersebut satu sama lain saling terkait untuk menciptakan interaksi edukatif guna mencapai suatu tujuan pendidikan. Satu sama lain harus memiliki sense yang sama. Guru sebagai pendidik berusaha bagaimana mendidik dan menyampaikan materi ajar dengan baik; siswa (peserta didik) sebagai pembelajar harus mengimbangi dengan menjadi pelajar yang baik dan mampu memposisikan diri sesuai tugas dan fungsinya, untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.

Menurut UU no. 20 tahun 2003 pasal 3 bahwa tujuan pendidikan nasional adalah“mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan, bertujuan untuk berkembangnya potensi agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlaq mulia, sehat jasmani dan rohani, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggungjawab”. Sebuah harapan nan sangat indah dan ideal sekaligus amanah yang amat sangat besar yang harus diemban oleh insan-insan pendidikan. Untuk mencapai tujuan pendidikan sebagaimana digariskan UU tentu tidak semudah membalik telapak tangan. Optimalisasi usaha-usaha semua pihak sangat menentukan apakah tujuan pendidikan secara nasional dapat terwujud atau justru hanya mimpi.

Ungkapan yang mengatakan ‘Nothing impossible in the world”, “Where is will there is way” akan menjadi kenyataan jika semua komponen menyadarinya. Dari kesadaran akan muncul positive behavior dan positive thought serta secara bersama-sama berusaha melakukan usaha optimal untuk mencapai target dan tujuan pendidikan yang diimpikan. Dalam pandangan penulis, sejauh ini pemerintah sudah mencoba (walaupun belum maksimal) membuat terobosan dan gebrakan krusial untuk mempercepat ketercapaian tujuan pendidikan dan pembelajaran; seperti anggara pendidikan 20%, peningkatan mutu dan kesejahtraan guru dan dosen, melengkapi sarana dan prasana belajar, dll. Semua itu diniati untuk untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia guna mencapai tujuan pendidikan nasional. Lalu, bagaimana dengan tugas dan fungsi guru?

Guru / dosen sebagai garda terdepan dalam proses pendidikan memiliki peran yang sangat penting dalam peningkatan kualitas pendidikan Indonesia, karena merekalah yang bersentuhan langsung dengan peserta didik. Mau jadi seperti apa peserta didik (learners) sangat tergantung pada sentuhan tangan-tangan para pendidik (guru/dosen). Tentu hal tersebut menjadi tugas sekaligus beban yang cukup berat bagi sosok guru, bagaimana membuat siswa belajar dan menjadikan mereka pelajar yang cerdas, berakhlaq, berperadaban, kompetitif sesuai amanat UU. Salah satu upaya sederhana dan riil yang harus dilakukan oleh guru adalah be competent and professional teachers. Indikatornya adalah guru diharapkan mampu berkreasi dan berinovasi menciptakan proses dan nuansa belajar yang menyenangkan, menginspirasi dan memotivasi peserta didik. Hal inilah yang kemudian kita kenal dengan akronim PAIKEMM (Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif Menyenangkan dan Menginspirasi).

PAIKEMM adalah pengembangan dari PAKEM yang menjadi inspirasi dan pegangan para pendidik dalam melaksanakan proses pembelajaran. PAIKEMM selaras dengan KBK dan KTSP yang menitikberatkan pada penggalian dan pengembangan potensi siswa sesuai bakat dan kemampuan masing-masing dalam suasana belajar fun, motivated, dan inspiring. Untuk mencapai tujuan PAIKEMM, banyak teori-teori pembelajaran dari para ahli pendidikan bisa diterapkan oleh guru dalam proses pembelajaran. Salah satunya adalah model pembelajaran kooperatif atau cooperative learning. Model pembelajaran CL adalah salah satu dari puluhan bahkan ratusan model yang banyak dipraktekkan dalam dunia pendidikan khususnya di Indonesia. Dalam tulisan ini, penulis akan sedikit mengulas tentang pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning) dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran.

Slavin (1995) mengemukakan “In cooperative learning methods, students work together in four member teams to master material initially presented by teachers.Dari uraian tersebut dapat dikemukan bahwa CL adalah suatu model pembelajaran dimana sistem belajar dan bekerja dalam kelompok kecil yang berjumlah 4 – 6 orang secara kolaboratif sehingga dapat merangsang siswa bergairah dalam belajar. Sedangkan Anita Lie (2000) menyebut CL dengan istilah pembelajaran gotong royong, yaitu sitem pembelajaran yang member kesempatan kepada peserta didik untuk bekerjasama dengan siswa lain dalam tugas-tugas terstruktur. Sebagai model pembelajaran berkrlompok, Cooperative Learning menekankan pada students’ centre, humanistic, dan domokratic yang disesuaikan dengan kemampuan siswa dalam lingkungan belajarnya (Djahiri, 2004).

Model Pembelajaran Cooperative learning (MPCL) diilhami oleh suatu pemikiran“getting better together” yang menekankan pada pemberian kesempatan belajar yang lebih luas dan suasa yang kondusif bagi para siswa untuk memperoleh dan mengembangkan pengetahuan, sikap, nilai serta skil sosial yang bermanfaat bagi kehidupannya di masyarakat. Melalui MPCL siswa tidak hanya belajar dan menerima apa yang disajikan oleh guru PBM, melainkan bisa juga belajar dari siswa lainnya sekaligus mempunyai kesempatan untuk membelajarkan siswa yang lain. Proses pembelajaran dengan MPCL akan mampu menstimulasi dan menggugahpotensi siswa secara optimal dalam suasana belajar dalam sebuah komunitas/kelompok (Stahl, 1994).

Ada beberapa variasi model pembelajaran dalam CL, antara lain: Student Team Achievement Division (STAD), Jigsaw, Group Investigation (GI), Rotating Trio Exchanging (RTE), Group Resume, dll. Titik focus dari model STAD adalah adanya kerjasama anggota kelompok dan kompetensi antar kelompok, siswa bekerja dalam sebuah kelompok dan belajar dari temannya serta mengajar temannya. Model Jigsaw pertama kali dikembangkan oleh Elliot Aronson, dkk, 1978. Model pembelajarn ini didesain untuk meningkatkan rasa tanggungjawab siswa terhadap pembelajarannya sendiri dan orang lain. Model RTE adalah model yang dapat diterapkan di dalam kelas dengan melibatkan murid yang terbagi menjadi 3 orang dan melakukan perputaran. Setiap putaran guru member soal yang berbeda-beda.

Pembelajaran kooperatif penting diterapkan dalam mainstream praktek pendidikan, karena memiliki tujuan yang sangat penting dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah. Tujuan dimaksud adalah: 1) Dapat menciptakan interaksi sosial karena membutuhkan partisipasi dan kerjasama kelompok pembelajaran; 2) Dapat meningkatkan cara belajar siswa menuju belajar yang lebih baik; 3) Dapat menumbuhkan semangat tolong menolong dalam kegiatan pembelajaran; 4) menghilangkan keterasingan peserta didik dalam proses pembelajaran; 5) Membangun kepercayaan diri peserta didik karena berinterkasi langsung dengan teman sebaya; 6) Menumbuhkan semangat saling menghargai antara peserta didik dalam berpendapat pada menyampaikan gagasan, 7) Membangun karakter siswa agar menjadi pelajar yang bertanggungjawab, dll.

Jarolimek & Parker (1993) mengemukakan keunggulan / manfaat yang dapat diperoleh melalui pembelajaran kooperatif, yaitu: 1) saling ketergantungan yang positif, 2) adanya pengakuan dalam merespons perbedaan individu, 3) siswa dilibatkan dalam perencanaan dan pengelolaan kelas, 4) menciptakan suasana rileks dan menyenangkan, 5) terjalinnya hubungan yang hangat dan bersahabat antara siswa dengan guru, siswa dengan siswa, 6) memiliki banyak kesempatan untuk mengekspresikan pengalaman emosi yang menyenangkan.

Model Pembelajaran Cooperative Learning (MPCL) dikembangkan setidaknya untuk mencapai 3 tujuan utama (Ibrahim, 2000), yaitu: 1) hasil belajar akademik; berbagai penelitian menyebutkna bahwa secara akademik terbukti mampu meningkatkan prestasi siswa dan perubahan norma yang berhubungan dengan hasil belajar, 2) penerimaan terhadap perbedaan individu; yaitu penerimaan secara luas dari orang-orang yang berbeda berdasarkan ras, budaya, kelas sosial, kemampuan, dan ketidakmampuan. 3. Pengembangan keterampilan sosial; yaitu bagaimana mengajarkan kepada siswa keterampilan bekerjasama dan kolaborasi.

sumber : http://edukasi.kompasiana.com/2011/06/25/revitalisasi-model-pembelajaran-cooperative-learning-mpcl-dalam-menciptakan-paikemm-di-sekolah-376297.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s